Ibu, Jangan Buang ASI Pertama!

Hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa penyakit kulit dan alergi yang diderita seseorang boleh jadi karena kurangnya asupan Air Susu Ibu (ASI) semasa balita. Hal ini diungkapkan Dr. Bob Wahyudin, SpA(K), IBCLC, dalam acara Kasih Ibu di radio SPFM, Selasa, (6/09/11).

Menurut Dr. Bob dibanding dengan susu formula, ASI memiliki kualitas yang jauh lebih baik dan awet lebih lama. “ASI memiliki banyak kandungan zat gizi di dalamnya, dan sifatnya lebih alami. Susu formula memiliki batas waktu, sedangkan ASI itu bisa digunakan kapanpun melalui ASI perahan,” katanya.

Minimnya pengetahuan Ibu tentang ASI itu sendiri seringkali malah merugikan bayinya. Misalnya saja kebiasaan ibu-ibu yang membuang ASI pertamanya sebelum menyusui bayinya. Padahal ASI pertama yang warnanya kekuningan tersebut justru sangat bermanfaat dan memiliki memiliki zat yang amat dibutuhkan bayi.

“Biasanya ibu-ibu itu membuang ASI pertama karena dianggapnya basi. Padahal sebenarnya ASI pertama atau colostrum itulah yang paling banyak mengandung zat antibodi yang dibutuhkan bayi. ASI itu tidak akan basi karena diproduksi langsung dari tubuh ibu sendiri. Karena warnanya yang berbeda dengan ASI biasa dan baunya yang menyengat, sehingga kebanyakan ibu-ibu itu menganggap ASI pertama atau colostrum itu basi. ASI pertama ini sangat dianjurkan untuk bayi,” jelas Dr. Bob Wahyudin.

Dr. Bob juga menyarankan pentingnya membuat sebuah komunitas ibu-ibu yang khusus menjadi tempat berbagi pengalaman menyusui, yakni seputar ibu tentang ASI dan pemberian ASI pada bayi.

Hal ini diamini oleh Ibu Nusliah, seorang perempuan yang berprofesi sebagai wanita karir dan juga aktif di sebuah Komunitas Ibu Menyusui (Makassar Breastfeeding Community). Ibu Lely, demikian biasanya dia dipanggil, mengatakan bahwa di era yang semakin maju saat ini sangat dibutuhkan wadah yang menjamin ibu-ibu yang berprofesi sebagai wanita karir untuk tetap bisa memberikan ASI pada bayinya.

“Undang-undang juga sudah menjamin ibu-ibu berprofesi sebagai wanita karir untuk memberikan ASI kepada bayinya. Saat ini kami juga sangat mengharapkan ketersediaan tempat untuk memerah ASI bagi mereka perempuan yang bekerja kantoran. Biasa disebut dengan ASI perah atau manajemen laktasi. Kunci kesuksesan dari menyusui itu sendiri adalah keluarga, sehingga dukungan dan arahan dari dalam keluarga untuk tetap memberikan ASI pada bayi sangat diharapkan. Karena menyusui juga sangat tergantung pada kondisi psikologi ibu tersebut,” pungkasnya.

Share