Penyakit Kusta Dan Cara Penularannya

Penderita kusta sangat mudah dikenal oleh setiap orang. Tapi tidak semua orang mudah mengetahui  bagaimana sebenarnya proses penularan penyakit tersebut.  Penyakit kusta atau lepra disebabkan oleh bakteri yang bernama mycobacterium leprae. Bentuknya seperti tongkat dan mirip dengan kuman penyebab penyakit TBC yaitu mycobacterium tuberculosis. Baik ukuran besar maupun bentuknya. Demikian pemaparan DR. dr. Faridha Ilyas, Sp.KK di acara Halo Dokter Radio SPFM, Rabu, 14 Desember 2011.

Bagaimana bisa tertular?

Sebenarnya tidak perlu takut tertular penyakit kusta. Karena penularannya tidak sesederhana yang anda pikirkan seperti  penularan flu. Kecuali penderitanya mempunyai kuman yang aktif dan memiliki luka terbuka kemudian andapun memiliki luka yang terbuka juga, kontak langsung di daerah luka tersebut memungkinkan  terjadinya penularan. Begitupun kalau anda memiliki kontak yang lama dan erat, misalnya bertahun-tahun sekamar. Kondisi ini jauh lebih memudahkan terjadinya penularan.

Mekanisme penularan sampai bisa terdeteksi atau menimbulkan gejala klinis bisa bervariasi antara 5 sampai 25 tahun. Jadi bisa saja kumannya masuk di usia 5 tahun dan nanti  pada usia 25 tahun atau 30 tahun baru bermanifes. Tapi dalam perjalanannya kalau sistem pertahanan tubuh bekerja sempurna, maka tentu tidak akan terjadi penularan. Sebaliknya jika tubuh dalam kondisi tidak fit dan kuman kusta masuk, maka kuman ini akan menempati tubuh kita. Olehnya, sistem pertahanan tubuh perlu dan penting mendapat perhatian khusus.

Penderita kusta berat sangat disarankan untuk rutin mengkonsumsi susu.

Jangan fobia tapi waspada!

Jika tidak paham mengenai proses penularan kusta, jelas akan memberikan rasa khawatir yang berlebihan. Terkadang ada rasa takut jika bertemu dengan penderita kusta. Padahal penderita kusta yang sering kita temui dan kulitnya sudah terlihat rusak ini tidak akan menulari orang yang bertemu atau yang bersentuhan dengannya. Sebab Mycobacterium Indeksnya (MI) sudah nol. Ini menunjukkan sudah tidak ada lagi bakteri yang aktif di dalam tubuhnya dan kecil kemungkinan akan menulari .

Stigma masyarakat yang mengatakan bahwa penyakit kusta adalah penyakit kutukan adalah salah. Penyakit ini sudah jelas disebabkan oleh bakteri dan bahkan beberapa penelitian menyebutkan sumbernya bisa dari air dan tanah.  Maka disarankan untuk tidak takut yang berlebihan, namun sebaiknya tetap waspada.

Pencegahan dan pengobatan.

Bakteri kusta bersifat khusus. Berbeda dengan bakteri lain yang hanya memiliki satu komponen dalam menyerang manusia. Untuk proses pengobatannya membutuhkan bukan hanya satu macam pengobatan tapi multi drug. Hal ini disebabkan sifat kekhususan bakteri kusta tersebut.

Bakteri kusta ini menyerang saraf  kulit, maka dipastikan kulit akan baal atau mati rasa. Selanjutnya dokter Faridha menjelaskan jika ingin mengetahui secara tepat tertular atau tidak, lakukan deteksi dengan teknik PCR. Dengan cara ini meskipun kumannya baru satu namun sudah bisa terdeteksi. Namun masalahnya cara deteksi ini masih cukup mahal dan masih rumit, terutama dalam pengiriman contoh darah.

Sebenarnya ada cara sederhana dan mudah untuk mendeteksi kusta sejak dini, yakni dengan memakai jarum (bisa jarum pentul). Caranya dengan menekan bercak putih yang tampak di kulit dengan jarum. Jika bercak itu ditekan dan tidak terasa sakit atau mati rasa, segeralah periksakan lebih lanjut untuk melihat kemungkinan penyakit kusta. Cara ini pernah dikampanyekan oleh Gerakan Masyarakat Peduli Indonesia dan Dunia Tanpa Kusta (Gempita). Aksi sosial yang digelar waktu itu bertajuk deteksi dini penyakit kusta (Lexprosy Burden).

“Memeriksakan diri, minum obat secara teratur, memperbaiki dan mempertahankan sistem pertahanan tubuh adalah cara terbaik untuk dilakukan dalam pencegahan maupun pegobatan,” demikian dokter Faridha mengakhiri penjelasannya.

Share