Stop Bertengkar Di Depan Anak

Untuk para orangtua, hati-hatilah jika bertengkar. Terutama jika ada mata-mata kecil yang menyaksikan, sebab anak adalah peniru ulung. Memperlihatkan hal yang buruk, bisa mengakibatkan tingkah anak mengarah pada perbuatan yang buruk pula nantinya. Mata dan telinga anak adalah alat perekam yang aktif dan setiap saat “on” untuk menangkap apa saja yang dilihat dan didengar. Kemudian memindahkannya ke dalam bentuk pikiran anak-anaknya yang bisa membuat kita kaget.

Uraian ini disampaikan oleh Widyastuti, SPsi, MSi di acara Kasih Ibu Radio SPFM Makassar Selasa (13/12/11).

Anak selalu merasa jika ada ayah dan ibu  itu berarti “aman”.  Jadi sebaiknya tidak memperlihatkan hal-hal yang belum pantas mereka lihat ataupun dengar yang membuat mereka bingung. Menurut Widyastuti, orang tua jangan pernah merasa mereka masih kecil  jadi pasti belum tahu apa-apa. “Anak itu sekalipun masih kecil tapi sudah bisa memakai feelingnya dengan baik. Sehingga apapun yang terjadi pada ayah dan ibunya pasti bisa dirasakannya.” jelasnya.

Pertengkaran yang terlalu sering dilihat oleh anak akan terekam berulang-ulang dan akan tersimpan lama. Ini akan mengakibatkan gambaran buruk bagi perkembangan perilakunya. Agresivitasnya cukup tinggi dan akan terbiasa menyelesaikan masalah dengan cara kasar baik verbal maupun non verbal.  Mudah marah, memukul dan membanting barang-barang adalah yang khas terlihat dari anak tersebut.

Kalaupun pertengkaran ini sudah terlanjur terlihat oleh anak, maka orangtua harus bijak menyikapi dengan mencoba menjelaskan mengapa mereka bertengkar. Menceritakan bahwa di antara ayah dan ibu kadang ada perbedaan  dalam mengambil keputusan. Anakpun menjadi tahu  penyebab  mengapa orangtuanya harus bertengkar. Kemudian jangan lupa meminta maaf. Dengan cara ini anak bisa berpikir ayah ibunya pun menghargainya sebagai anak dan merasa bagian dari keluarga. Hal ini menjadi gambaran yang baik buatnya. Anak juga akan melakukan hal yang sama jika suatu saat berlaku salah pada orang lain.  Inilah yang akhirnya mengantar anak perlahan-lahan menuju pada pendewasaan berpikir.

Pertengkaran sebenarnya merupakan salah satu bentuk komunikasi juga,  namun sifatnya kasar. Pertengkaran diakui oleh orang dewasa sebagai cara manjur dalam berkomunikasi. Mengapa? Sebab dengan pertengkaran tanpa disadari hal-hal yang disembunyikanpun bisa keluar tanpa disadari. Ini bisa menjadi pertimbangan untuk sebuah keputusan. Jika berkomunikasi biasa kadang-kadang kita masih mempertimbangkan perasaan orang lain. Namun cara ini sangat tidak disarankan untuk dilakukan di depan anak. Cara penerimaan dan menelaah satu masalah tentu berbeda antara orang dewasa dan anak.

Jangan pernah menjawab pertanyaan anak tentang apa yang dilihat dengan asal-asalan. Dalam pertengkaran orang tua, tidak tertutup kemungkinan anak bisa saja menjadi pihak ketiga yang baik. Dengan sifat kekanak-kanakannya mungkin saja bisa menyentuh perasaan keduanya untuk menyadarkan mengapa mereka harus bertengkar. Pembentukan pribadi anak untuk menjadi baik sangat ditentukan oleh  bagaimana dia menjalani masa kanak-kanaknya dengan proses yang berjalan normal.

Budaya berdiskusi sebaiknya dibiasakan di dalam rumah. Karena akan membuat anak menjadi cerdas dalam mengamati setiap masalah, terbiasa tenang dalam mengambil keputusan dan bisa menghargai orang lain.

Share